Wawancara Eksklusif: Berkenalan dengan Band Disco Synth Pop yang Siap Menggebrak Industri Musik Indonesia, Guernica Club!

23 Aug 2021,

Tulisan ini merupakan hasil dari sebuah wawancara manis dengan empat manusia Mars selama 1 jam lebih yang begitu intim pula menyenangkan. Tulisan ini mungkin awalnya akan dibaca oleh ratusan sampai ribuan mata, dan melalui tulisan ini mungkin akan membuat anda jatuh cinta dengan band yang satu ini.

Pasalnya, band dengan formasi 4 personel ini memang sebuah grup yang sangat menyenangkan dan akan menularkan senyuman mereka melalui lagu-lagu khas mereka. Hal itulah yang mungkin membuat mereka menjadi band disco synth pop paling dicari di Indonesia. Bahkan mungkin se-Asia setelah mereka diumumkan akan tampil di ASEAN Music Showcase Festival 2021.

Sore itu langit Jakarta dikepung oleh awan putih tebal setelah hujan turun, membuat hari terasa begitu tenang, seakan menandakan bahwa ada hal baik yang akan menghampiri saya dalam waktu dekat. Ditemani oleh sang Manajer, perjalanan saya untuk menemui band dengan genre Disco Synth Pop ini terasa begitu spesial. Menyusuri Kampung Melayu hingga Tebet, akhirnya kita sampai ke salah satu studio musik di Bukit Duri yang menjadi tempat favorit Guernica Club untuk melakukan peregangan dan pemanasan rutinnya.

Kenisha (Vokal) menjadi personil pertama yang saya jumpai, disusul oleh Fathur (Bassist), Yosua (Keyboardist), dan Aldo (Gitaris), keempat manusia unik tersebut merupakan satu kesatuan dari sebuah tubuh yang mereka namai Guernica Club. Datang dengan tujuan Interview di waktu latihan rutin mereka, ternyata memberikan saya sebuah kesempatan untuk menyaksikan langsung band ini tampil, terpujilah hari itu! 

Tuhan memang baik, kesempatan seperti ini mungkin tak datang dua kali. Guernica Club, mereka juga baik! Terimakasih atas sambutan hangat dan VIP pass nya selama satu hari kemarin, I owe you one guys!

Obrolan saya dimulai pukul sembilan malam, ditemani dengan beberapa botol soju dan rokok diatas meja membuat perbincangan mengenai eksistensi, latar belakang, inspirasi, hingga kehidupan pribadi para personil Guernica Club semakin hangat.

Dibuka dengan perkenalan yang lucu dari masing-masing personel, membuat sesi wawancara ini terasa lebih ringan. Hingga di setiap pertanyaan selanjutnya yang terus dijawab sembari bercanda oleh mereka. Namun perkenalan tidak hanya dilakukan dengan setiap personel, melainkan juga dengan band ini sendiri.

“Kalo misalnya ditanya soal Guernica Club, ya kita adalah sebuah band baru di Jakarta. Kita tuh sebelumnya memang anak-anaknya suka musik, suka seni, dari situlah juga asal usul nama Guernica. Guernica sendiri merupakan karya seni Pablo Picasso. Jadi kalo ditanya siapakah Guernica Club itu, Guernica adalah band dari Jakarta aja, dengan genre Synth Disco Pop,” jelas Yosua dengan tawa ringannya.

Namun, ternyata setiap personel memiliki makna tersendiri tentang band mereka. Seperti Kenisha yang berkata: “gue merasa kalo Guernica tuh adalah sebuah band dari Jakarta, dan gue sendiri bisa bilang kalo Guernica tuh cukup unik. Ada sih yang serupa genrenya dengan Guernica, tapi menurut gue gak se-unik Guernica, anjir sotoy banget gue. Tapi maksud gue dengan adanya Guernica tuh gue harap bisa membawa musik yang baru aja sih khususnya. I think musik jaman sekarang tuh harus ada sense yang berbeda, dan Guernica itu membawakan vibe disco 80s, jadi gimana caranya kita bikin musik yang lo familiar but somehow different dan itulah Guernica.”

Baca juga:
Modernitas, Pasar Asing, dan Lintas Dimensi dalam EP Perdana Guernica Club
CVX Tampilkan Sisi Funky dan Disco Khas 80an di Lagu Terbarunya

Sedangkan Aldo punya pendapat lain. Bagi Aldo, Guernica Club adalah sebuah band yang sesederhana lahir dari anak-anak muda dengan selera musik sama. Acuan dari kata-kata Aldo tersebut adalah dari jamming pertama mereka dengan keselarasan permainan musik, ditambah dengan referensi musik yang sama dan cocok.

Serupa dengan Aldo, Fathur punya pendapat bahwa band ini adalah sebuah grup kolaborasi. “Guernica (Club) adalah sebuah kolaborasi, karena latar belakang kita semua beda-beda. Kita ketemu karena referensi musik yang sama, fashion yang sama, dan balik lagi dengan latar belakang yang berbeda dan ketemu disitu (kolaborasinya), itulah Guernica (Club),” jelas Fathur.

Untuk beberapa penikmat musik, atau mungkin sebutannya ‘anak skena’, saya yakin bahwa Guernica Club sendiri memang sudah cukup digandrungi oleh banyak anak muda. Musik bergenre Disco Synth Pop menjadi suara yang paling melekat jika mendengar nama mereka. Pembawaan musiknya yang riang dengan groove asik menjadi alasan kenapa lagu-lagu Guernica Club sangat diminati walaupun genre pilihan mereka tidak banyak dinikmati di Indonesia.

Disco Synth Pop sendiri bukanlah hal baru di Indonesia, dan membawakan lagu bernuansa serupa jelas menjadi sesuatu yang baru bagi beberapa anak muda. Kecintaan mereka akan genre ini juga yang membuat Disco Synth Pop semakin hidup kembali di Indonesia. Ditambah karakter yang mereka miliki di dalam tubuh mereka, bersamaan dengan pengaruh musik yang tidak jauh beda, membuat Guernica Club menjadi calon idola anak muda di masa depan.

 

Cerita Awal Mula Guernica Club

Seperti yang sudah disebutkan di awal, band ini sendiri hadir dengan formasi 4 personel, dan terbentuk dari referensi musik yang sama. Referensi musik yang mereka temui selama hidupnya berhasil mempertemukan mereka walaupun keempat anak muda ini muncul dari latar belakang yang berbeda.

Jika ditanya siapa pendiri dari Guernica Club sendiri, mereka pasti akan menjawab nama Aldo. Pasalnya, Aldo adalah orang yang membawa mimpi grup musik Guernica Club ini. Dimulai dari cerita Aldo yang pernah ngeband bareng Fathur dan temannya Aldo, dengan nama band Pepperoni. Bermula dari band rock yang sering cover lagu Arctic Monkeys dan The Strokes, hingga menjadi band disco synth pop yang sangat menunjukkan groove.

Berawal dari dua orang, kemudian bersambung ke Yosua yang merupakan seorang keyboardist dan mengajak adiknya untuk turut bergabung sebagai vokalis , hingga akhirnya kita bertemu dengan grup musik yang muncul pertama kali dengan lagu berjudul Starry Night.

 

Starry Night sendiri dipilih sebagai lagu perkenalan mereka sebagai Guernica Club. Namun, band ini sebelumnya menciptakan satu lagu yang pertama kali di-feature oleh MusicVibe dalam program Fresh Music Weekly, yakni Hanahaki Desease.

Kedua lagu tersebut ternyata menjadi pendorong mereka untuk berkarya. Lahir di situasi pandemi COVID-19, mungkin membuat beberapa orang menjadi terhambat untuk berkarya. Tapi tidak bagi Guernica Club. Banyak waktu di rumah malah membuat mereka punya lebih banyak waktu, dan mereka ingin buktikan dengan kegiatan yang lebih produktif.

Itulah yang membuat mereka semakin semangat untuk berkarya. Semangat itu membuat Guernica Club bahkan bisa tampil dengan karya-karya mereka yang lebih luas lainnya. Hal ini mereka buktikan dengan sebuah EP berjudul Self Esteem in Progress yang dirilis pada 2 April silam.

 

Baca juga:
24 Lagu Seru yang Bisa Kalian Dengarkan untuk Bersenang-Senang #DiRumahAja

EP Self Esteem in Progress

EP ini sendiri dikerjakan secara bergotong-royong oleh para personil Guernica Club. Setiap orang memiliki porsinya masing-masing dalam memasak rangkaian karya debut mereka. Seperti di departemen lirik, Yosua yang bekerja sama dengan Kenisha, dan juga Fathur. Sedangkan Aldo sendiri membantu di urusan melodis.

“Kalo emang masalah perlirikan, kebanyakan emang dari kita semua pasti nanti minta pendapatnya Kenisha, karena kan nanti dia yang nyanyi tuh, kita tanya ke dia kaya ‘lu enak gak ken dengan lirik yang kaya gini? cocok gak?’ dan kebetulan Starry Night juga relate banget sama apa yang Kenisha tulis,” jelas Yosua.

Lagu Starry Night memang ditulis oleh Kenisha. Lagu tersebut bahkan ia tetapkan sebagai single favoritnya karena ia merasa relate dengan apa yang ditulis. Suasana city pop yang dreamy memang benar-benar lahir di dalam lagu ini. Selain itu, Starry Night juga menjadi primadona di EP Self Esteem in Progress dengan 59.000 lebih plays.

Perihal EP ini sendiri, pada dasarnya mereka berhasil melahirkan Self Esteem in Progress dalam kondisi pandemi tidak lama setelah band terbentuk. Jika ditanya apa makna dari EP ini, kita sendiri sudah bisa menjawabnya dengan memperhatikan keempat lagu ini. Pada dasarnya, Self Esteem in Progress membahas hal-hal yang berkaitan seorang individu dalam masa pandemi ini.

Kalau kata Yosua: “Jadi memang EP kita itu, mulai dari Starry Night kan levelnya membahas tentang individu dengan sebuah objek, Hanahaki [Disease] juga bisa dibilang membahas individu terhadap seorang individu, Uncertainty lebih ke masalah internal, dan eksternal nya kita bungkus di Pandemic.“

 

Mari Lebih Mengenali Guernica Club

EP Self Esteem in Progress mungkin akan terus berputar di kepala kalian setelah membaca artikel ini. Atau mungkin akan sangat menyenangkan jika EP ini dapat kalian pilih sebagai penyemangat hari-hari kalian. Namun, EP ini jelas tidak akan hadir ke telinga kalian tanpa adanya keempat personil yang cukup kompak ini.

Karena saya sendiri yakin bahwa tidak akan mudah menyatukan empat kepala bersamaan. Terlebih lagi setiap personil memiliki latar belakang dan kebiasaan masing-masing. Seperti Kenisha dan Yosua yang memang sepasang kakak-beradik dan tinggal serumah. Jarak yang dekat bahkan tidak membuat Kenisha datang lebih dahulu ke kamar sang kakak selama proses produksi, melainkan menjadi yang terakhir untuk hadir.

Sebagai sebuah band yang juga membangun pertemanan bersama, keempat personil memang harus bahu membahu menciptakan suasana asyik untuk mendapatkan atmosfer nan baik. Seperti menggunakan suara dengkuran Kenisha sebagai elemen perkusi, atau take vocal di toilet untuk mendapatkan kualitas suara yang dibutuhkan.

“Oh gua pernah nih bikin perkusi bareng Yos juga, Kenisha lagi tidur gitu sambil ngorok. Terus gua rekam, ditambah pake botol wine kosong yang dipukul pake belakang sendok. Terus pas Kenisha bangun, ‘Lah udah jadi nih perkusi,’” cerita Aldo.

Hingga pengalaman tampil di Thanksinsomnia beberapa minggu lalu yang menyisakan kenangan lucu. Pengalaman tampil di acara itu memang menjadi salah satu pengalaman menarik bagi mereka. Acara yang juga dibintangi oleh beberapa nama besar seperti Reality Club dan Adrian Khalif ini membuat mereka nervous sebelum tampil.

Berbagai persiapan sebelum tampil mereka lakukan untuk memberikan penampilan terbaik di acara tersebut. Seperti melakukan acapella sebelum tampil, mengelap gitar, hingga bolak-balik ke toilet untuk melepaskan perasaan grogi.

“Jadi waktu itu kita Acapella mainin Uncertainty, terus kebetulan kita bawain versi akustik lagi ya? Bahkan karena nervous pas kemarin di Thanksinsomnia tuh. Ada yang bulak-balik ke toilet sampe nyari alesan buat liat-liat baju,” kenang Yosua.

Yah, perasaan seperti itu jelas sangat wajar. Bahkan saya yakin sekelas Dua Lipa atau Bruno Mars saja pasti pernah merasakan perasaan yang sama saat tampil di acara-acara besar pada awal kariernya. Jam terbang mungkin bisamenjadi faktor besar perasaan tersebut hadir. Didukung dengan fakta bahwa ini adalah band yang baru lahir di era pandemi, dan telah dijelaskan dalam EP mereka, Self Esteem in Progress, sebagai perjalanan mereka dalam mengembagkan self esteem para personilnya.

Namun, hal tersebut bukan menjadi kelemahan besar mereka. Bahkan mereka berhasil merubah kelemahan tersebut menjadi sebuah karya yang menarik Guernica Club kepada beberapa panggung-panggung tak terlupakan. Sebagai contoh, keempat anak muda ini pernah tampil dadakan di Bandung dan berhasil menyihir penonton menjadi ramai.

Grogi? Jelas. Aldo bahkan sangat merasa grogi dan tak tahu harus melihat karena ramainya crowd dan perasaan nervous tersebut. “Soalnya ya, coba lu bayangin pertama kali main, bener-bener kita mau ke Bandung buat Radio Ardan. Tiba-tiba ditawarin, “Eh sekalian dong main kesini.” Pas udah sampe disana ternyata ada crowd nya, dan crowd nya tuh yang bener-bener aktif, bahkan mereka sampe ikutan nyanyi,” cerita Yosua.

Hal tak terduga seperti ini berhasil memberikan cerita lain dari perjalanan musik Guernica Club menjadi salah satu band disco synth pop paling laku di Indonesia. Kualitas mereka mungkin belum bisa dilihat sebagai nama besar musisi Indonesia, tapi mereka berhasil membuat warga Asia Tenggara terkagum dengan penampilan mereka di ASEAN Music Festival 2021 silam. Bahkan mungkin akan ada cerita lain yang siap menyusul bersamaan dengan rencana-rencana mereka.

Yosua juga membeberkan sedikit bocoran tentang rencana mereka. EP kedua mereka akan segera rilis dalam waktu yang belum bisa ditentukan bersamaan dengan proyek kompilasi mereka dengan Pop Kota. Selain itu, akan ada sebuah album perdana Guernica Club yang sudah masuk tahap pengerjaan dan akan dirilis dalam waktu yang lebih lama lagi.

Layakanya remaja yang sedang mengadakan malam keakraban, perbicangan hangat kami ditutup dengan sebuah obrolan santai dan canda tawa, membahas mengenai isu terkini sampai hal-hal personal.

Malam itu, sejatinya mungkin akan mengubah hidup saya, tak hanya hanya firasat belaka, namun saya yakin pasti banyak hal baik yang akan datang setelah saya bertemu dengan Guernica Club. Dengan segala kapasitas yang mereka punya, mari berharap dalam 5 tahun mendatang Guernica Club dapat membawa pengaruh besar pada musik Indonesia.

 

Penulis dan Editor: Aditya Hernanto
Wartawan: Erlangga Sena
Foto: Dokumentasi Musicvibe oleh Revanska Rizky


SHARE :