REVIEW: Siap Siap Terkesima! White Chorus Bawa Fastfood Mau Lewat!

29 Jul 2021,

Selamat malam dari timur Jakarta, ditemani dengan segelas kola dan rokok putih diatas meja. Sambil mengangguk keasyikan dan tersenyum lebar, saya menikmati album yang sedang saya ulas ini, Fastfood dari White Chorus, sebuah album berani dari band yang dinamis abis.

Bumi Parahyangan tak pernah kehabisan karunianya, tak cuma pemandangan alam dan neng geulis saja, Bandung juga tak pernah kehabisan talenta musiknya. Sebutlah nama besar seperti The Changcuters, The Sigit, dan Burgerkill yang musiknya mampu memikat banyak orang, band kecil asal Bandung pun juga mampu memikat hati anda dengan mudah, seperti halnya White Chorus yang mampu memikat pendengaran saya dengan mudahnya, tak percaya? Coba dengarkan musik mereka yang enjoyable abis ini lewat laman musik favorit anda!

Asyik dilihat dan asyik didengar rasanya merupakan kalimat yang cocok untuk band asal Bandung ini. Dimotori oleh Clara Friska alias White Skeleton dan Emir Agung aka Analog Chorus, White Chorus lahir dengan genre electro-pop yang dikemas secara ringan namun berkelas. Musik yang mereka suguhkan begitu modern dan segar, jelas menyasar kawula muda dan pasar luar sebagai target utamanya, melihat fakta bahwa genre musik yang mereka bawakan jauh lebih laris di pasar asing.

Mereka memulai karir lewat debut EP Happy Sad pada tahun 2019, dan merilis berbagai judul single pada pertengahan tahun 2020 seperti HEATWAVE, Telephonecall, dan Alone Together yang akan kita temui pula pada album Fastfood. Album ini diisi sepuluh rilisan yang sejalan dengan judulnya, begitu ringan dan dinamis, cocok untuk kalian nikmati kapanpun-dimanapun sama seperti ketika kalian menikmati makanan cepat saji (fastfood).

 

Baca juga:
Indahkus Berikan Visual Apik untuk Lagu Miliknya
Pablo Cikaso Sulap Lagu Mondo Gascaro Jadi Citypop 80an

Album ini dimulai dengan sebuah nasihat untuk kalian yang sedang mengalami berat kepala, dikemas sedemikian rupa agar enak didengar. Lose Your Mind menjadi track awalan yang tepat karena dapat memberikan kesan awal electro-pop yang asyik bagi pendengarnya, begitu juga dengan nomor Dancing In The Dark yang memuat lirik dan ketukan repetitif ala lo-fi membuat bahu kita bergerak senada tanpa adanya paksaan, mengalir dan melebur begitu saja.

Tak hanya musik lo-fi hiphop saja yang mereka suguhkan, beberapa genre unik lainnya juga masuk kedalam album ini, seperti sentuhan psychedelia yang menjadi based genre dari band besar Australia Tame Impala pada I Shouldn’t Bring My Heart Next Time, retro-chillwave di nomor HEATWAVE dan electro-pop yang danceable pada Disappear, hingga kombinasi lo-fi pop dan triphop yang pas banget di Go Run Away!.

Go Run Away! pula sejatinya menjadi focus track pada Fastfood, mengangkat isu menarik mengenai teman palsu yang marak terjadi pada kehidupan sehari-hari terutama untuk para millennials dan gen-z, lirik pada nomor ini juga begitu mudah dicerna dan isu yang diangkat mampu dipresentasikan dengan baik melalui pilihan kata yang tepat. Namun, merujuk pada Spotify White Chorus, HEATWAVE malahan menjadi lagu paling diminati dengan pendengar sebanyak 208.857, Impressive number!

Pada pembuatannya, Emir mengakui bahwa proses pembuatan Fastfood tergolong cukup dinamis. “Album ini memang menandai fase terkini dari White Chorus, di mana kami berdua sedang ‘nyaman-nyamannya’ membuat lagu berdasarkan spontanitas atau impulsivitas mood kami,” tuturnya. “Sehingga dari segi musik pun, semua lagu dalam Fastfood bisa dibilang ringan, singkat, namun variatif. Ini supaya pendengar bisa menikmatinya berulang-ulang tanpa membutuhkan waktu atau pemikiran terlalu dalam”.

Kata-kata Emir dapat dibuktikan dengan mudah, melalui genre yang unik, isu yang mereka angkat, dan lirik yang mudah dicerna, album ini bisa dinikmati oleh siapa saja, kapan saja, dan tentu layak mendapatkan apresiasi baik dari para penikmat musik. Friska dan Emir juga sepakat bahwa mereka amat terbantu oleh sosok Mamoy dari BLEU HOUSE yang memproduser 7 lagu pada album ini.

Mendengar album ini secara berulang-ulang membuat saya mengambil kesimpulan bahwa kekuatan utama White Chorus ada pada vocal Friska yang sangat menjual, lewat suara dan vocabulary yang ia miliki, mungkin orang awam (layaknya saya) akan mengira bahwa yang sedang kita dengarkan adalah band asal luar negeri dengan based genre electronic lo-fi macam Joji atau Palm Trees. Namun diluar itu, sejatinya mereka tetap memiliki kapasitas yang baik bagi sebuah band baru.

Dengan debut album yang berkesan, pembawaan isu yang tepat, dan kapasitas yang mumpuni menurut saya mereka layak dan berhak untuk mendapatkan rekognisi dari para pecinta musik dan panggung yang lebih besar di rancah musik Indonesia.

 

Penulis: Erlangga Sena
Foto: Dokumentasi White Chorus dan Microgram Ent.


SHARE :