Wawancara Eksklusif Swain Mahisa: Tidak Punya Teman, Kepastian, Dan Rasa Takut

02 Jun 2021,

“Gue pengen masuk ke semua genre, masukin orang ke suatu genre sama dengan memenjarakan orang.”

Di kilat matanya ada ambisi, di tutur katanya terdapat kepercayaan diri, dan dalam lantunan lagunya tersirat perjalanan panjang penuh eksplorasi dalam industri musik. Dua single belum bisa dibilang jumlah yang banyak untuk mendefiniskan karir dan warna bermusik seseorang.

Hanya saja, ada kejanggalan di sana. Belum ada media yang sepertinya benar-benar tulus meliput empunya video musik hip-hop untuk sebuah lagu yang didominasi piano, menyerempet ke ballad dalam tembang Only One. Semua yang terlihat masih membahas seputar kesuksesannya dalam bisnis retail sepatu. Tak berfokus pada musikalitas dan sekumpulan petualangan bermusik amat menarik yang ia punya.

Melbourne Town Hall jadi tempat yang beredar terus-menerus dalam kesaksian hidup Swain Mahisa. Deretan seleksi panjang hingga merasakan momen magis dari menjadi seorang penampil, ia alami di sana. Ceritanya bermula saat terbukanya audisi untuk penampil pembuka konser di sana.

Saingannya tidak main-main, berbagai band menunjukkan kebolehannya. Tak lupa pendukung dari tiap kandidat menampakan dirinya. Menurut pengakuan Swain, hanya dia yang saat itu datang seorang diri. Tanpa dukungan, tak ada teman.

Mampu ditebak, Swain memang menyabet posisi utama dalam audisi ini. Menyisakan nama-nama lainnya. Namun seolah tak ingin egois, ia melobi penyelenggara acara untuk suatu aksi kolaborasi. Ternyata, Swain hendak mengajak band lain yang ikut pula dalam audisi tersebut.

Walaupun mereka tak mendapatkan kesempatan pada awalnya, tetapi Swain merasa akan lebih baik apabila tampil dan diiringi oleh band tersebut. Alhasil, setelah proses negosiasi, kesepakatan didapat. Swain dan band yang berbakat tadi, berhasil tampil.

Baca juga:
Sastra, Orang Tua, Musik, dan Budaya yang Berbeda, serta Hal-Hal Lainnya Tentang Yung Raja
 

Gila, wow, dan nikmat. Tiga kata tersebut meluncur dari ujung tenggorok Swain Mahisa saat ditanya seperti apa perasaan yang ia dapatkan merujuk pada penampilannya tersebut. “Lucunya, di situ gue gak ada rasa takut atau nervous sama sekali,” kata Swain. Menggebu-gebu, Swain menjelaskan perasaan yang ia dapatkan pada saat itu justru aneh.

Aneh karena seolah-olah ia merasa ia terlahir untuk momen tersebut. Bernyanyi di hadapan berpasang-pasang mata yang menyaksikan. Mendapatkan lampu sorot, hingga menggunakan fungsi pita suaranya, semua hal tersebut, ia nikmati.

Dalam dua rilisan perdananya, Only One dan Krayon Patah, aroma dentingan piano sangat nyiur terhirup. Hal ini jelas mengundang pertanyaan. Perihal bagaimana awalnya ia jatuh cinta dengan instrument ini? Ternyata ceritanya komplit. Guyon, naas, dan jahil. Kalau dirangkum, kira-kira akan seperti ini. Sang bapak awalnya tidak terlampau mendukung keputusan Swain untuk berfokus pada industri musik. Pembelian piano pun sempat melewati proses negosiasi alot antara kedua orangtuanya.

Ada kejadian lucu dimana Swain melewati sebuah studio musik di tempat ia menimba ilmu di Australia. Dengan tatapan kagum dan berdecak, ia meminta izin untuk menyaksikan permainan piano murid lain yang saat itu sedang bermain. Rasanya semua orang juga harus tau sisi jahil bin nakal dari anak ini. Ia membangkang pada guru pianonya sebab tidak diizinkan untuk melakukan improvisasi saat bermain. Ia geram dan gemas karenanya.

Baca juga:
Nasi Sudah Menjadi Bubur: Tak Teliti Menilik Potensi dari Cibubur. Putra Timur
Gabung dengan Label Internasional, Ramengvrl Langsung Rilis Single Baru

Swain Mahisa sendiri baru menyentuh kepala dua. Umur yang cukup belia untuk masuk ke industri musik. Melihat kedua rilisannya, Only One dan Krayon Patah, sepertinya tersinyalir akan ada perjalanan yang cukup panjang baginya di industri ini. Only One dengan lirik berbahasa asing darinya menunjukkan kemampuan yang tidak sembarang.

Swain sendiri memang menempuh pendidikan di tempat yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Singkatnya, tak perlu diragukan lagi kemampuan musisi pria pendatang baru ini dalam menyusun karya yang cocok dengan selera dunia. Baik secara lirikal dan pembawaan, ia mumpuni!

Tak mau dipandang hanya mampu mengandalkan bahasa asing, pemilihan diksi, teknik olah suara, hingga banyak detail-detail menyenangkan, terkandung dalam Krayon Patah. Kali ini pasar yang dituju lebih mengerucut, pendengar lokal. Tak terlampau berbeda dengan karya sebelumnya, mereka yang menikmati Only One, juga harus tertarik untuk mendengarkan lagu ini.

Akhir kata, masih banyak yang bisa ditunggu dari seorang Swain Mahisa. Andai saja saya diizinkan untuk membocorkan sedikit rahasia terkait karya-karyanya di masa yang akan datang, ia berujar akan memunculkan sesuatu yang sangat berbeda dengan dua lagu ini. Paket komplit memang ada dalam dirinya, sangat layak untuk dinanti!

 

Penulis dan Pewawancara: Hillfrom Timotius Lamhot
Foto: Dokumentasi Swain Mahisa


SHARE :